Kamis, 15 November 2012

Profil Kota Bukittinggi

Kota Bukittinggi

Kota Bukittinggi adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.[4]
Bukittinggi sebelumnya disebut dengan Fort de Kock dan dahulunya pernah dijuluki sebagai Parijs van Sumatra selain kota Medan.[5] Kota ini merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.
Selain sebagai kota perjuangan, Bukittinggi juga terkenal sebagai kota wisata yang berhawa sejuk, dan bersaudara (sister city) dengan Seremban di Negeri Sembilan, Malaysia. Seluruh wilayah kota ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Agam. Tempat wisata yang ramai dikunjungi adalah Jam Gadang, yaitu sebuah menara jam mirip Big Ben yang terletak di jantung kota sekaligus menjadi simbol bagi kota yang berada pada tepi sebuah lembah bernama Ngarai Sianok.

Sejarah

Kota Bukittinggi mulai berdiri seiring dengan kedatangan Belanda yang kemudian mendirikan kubu pertahanan pada tahun 1825[6] pada masa Perang Padri di salah satu bukit yang terdapat dalam kota ini. Tempat ini dikenal sebagai benteng Fort de Kock, sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Kemudian pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, kawasan ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah Stadsgemeente (kota),[7] dan juga berfungsi sebagai ibu kota Afdeeling Padangsche Bovenlanden dan Onderafdeeling Oud Agam.[8]
Pada masa pendudukan Jepang, Kota Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand. Kota ini menjadi tempat kedudukan komandan militer ke-25 Kenpeitai, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Hirano Toyoji.[9] Kemudian kota ini berganti nama dari Stadsgemeente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari sekitarnya seperti Sianok Anam Suku, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba dan Bukit Batabuah. Sekarang nagari-nagari tersebut masuk ke dalam wilayah Kabupaten Agam.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Bukittinggi dipilih menjadi ibu kota provinsi Sumatera, dengan gubernurnya Mr. Teuku Muhammad Hasan.[10] Kemudian Bukittinggi juga ditetapkan sebagai wilayah pemerintahan kota berdasarkan Ketetapan Gubernur Provinsi Sumatera Nomor 391 tanggal 9 Juni 1947.
Pada masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kota Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan, ketika pada tanggal 19 Desember 1948 kota ini ditunjuk sebagai ibu kota negara Indonesia setelah Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda atau dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Di kemudian hari, peristiwa ini ditetapkan sebagai Hari Bela Negara, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia tanggal 18 Desember 2006.[11][12]
Selanjutnya Kota Bukittinggi menjadi Kota Besar berdasarkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kota besar dalam lingkungan daerah provinsi Sumatera Tengah masa itu,[13] yang meliputi wilayah provinsi Sumatera Barat, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau sekarang.
Dalam rangka perluasan wilayah kota, pada tahun 1999 pemerintah menerbitkan PP Nomor 84 Tahun 1999 yang isinya menggabungkan nagari-nagari di sekitar Bukittinggi ke dalam wilayah kota. Nagari-nagari tersebut yaitu Cingkariang, Gaduik, Sianok Anam Suku, Guguak Tabek Sarojo, Ampang Gadang, Ladang Laweh, Pakan Sinayan, Kubang Putiah, Pasia, Kapau, Batu Taba, dan Koto Gadang.[14] Namun sebagian masyarakat di 12 nagari tersebut menolak untuk bergabung dengan Bukittinggi, sehingga peraturan tersebut hingga saat ini belum dapat dilaksanakan.[15]

Geografi

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/e4/Ngarai_dan_Gunung_Singgalang.jpg/220px-Ngarai_dan_Gunung_Singgalang.jpg
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Gunung Singgalang, dilihat dari kawasan Ngarai Sianok di Bukittinggi
Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatera, dan dikelilingi oleh dua gunung berapi yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Kota ini berada pada ketinggian 909–941 meter di atas permukaan laut, dan memiliki hawa cukup sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C. Sementara dari total luas wilayah kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82.8% telah diperuntukan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.
Kota ini memiliki topografi berbukit-bukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut tersebar dalam wilayah perkotaan, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan dan sebagainya. Sementara terdapat lembah yang dikenal juga dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75–110 m, yang didasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang.

[sunting] Kependudukan

http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Masjid Bengkudu dengan kolam di sekitarnya di dekat Bukittinggi, salah satu masjid tertua di Indonesia.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/90/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Drukbezochte_markt_in_Fort_de_Kock_TMnr_60043505.jpg/220px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Drukbezochte_markt_in_Fort_de_Kock_TMnr_60043505.jpg
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Pasar Ateh tempo dulu
Perkembangan penduduk Bukittinggi tidak terlepas dari berubahnya peran kota ini menjadi pusat perdagangan di dataran tinggi Minangkabau. Hal ini ditandai dengan dibangunnya pasar oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1890 dengan nama loods. Masyarakat setempat mengejanya dengan loih, dengan atap melengkung kemudian dikenal dengan nama Loih Galuang.
Saat ini kota Bukittingi merupakan kota terpadat di provinsi Sumatera Barat, dengan jumlah angkatan kerja 52.631 orang dan sekitar 3.845 orang di antaranya merupakan pengangguran.[3] Kota ini didominasi oleh etnis Minangkabau, namun terdapat juga etnis Tionghoa, Jawa, Tamil dan Batak.
Masyarakat Tionghoa datang bersamaan dengan munculnya pasar-pasar di Bukittinggi. Mereka dizinkan pemerintah Hindia-Belanda membangun toko/kios pada kaki bukit benteng Fort de Kock, yang terletak di bagian barat kota, membujur dari selatan ke utara, dan saat ini dikenal dengan nama Kampung Cino. Sementara pedagang India ditempatkan di kaki bukit sebelah utara, melingkar dari arah timur ke barat dan sekarang disebut juga Kampung Keling.
Tahun
2008
2010
Jumlah penduduk
106.045
Green Arrow Up.svg110.954
Sejarah kependudukan kota Bukittinggi
Sumber:[3][2]

Pemerintahan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar Wali Kota Bukittinggi
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/12/Bukittinggi_walikota.JPG/220px-Bukittinggi_walikota.JPG
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Balai kota Bukittinggi
Sejak tahun 1918 kota Bukittinggi telah berstatus gemeente,[16] selanjutnya tahun 1930 wilayah kota ini diperluas menjadi 5.2 km².[17] Pada masa pendudukan Jepang wilayah kota ini kembali diperluas. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia terjadi tumpang tindih batas-batas wilayah kota ini karena penetapan sepihak baik masa Hindia-Belanda maupun Jepang.
Saat ini batas wilayah pemerintahan kota dikelilingi oleh Kabupaten Agam, dan konfik antara kedua pemerintah daerah tersebut tentang batas wilayah masih berlanjut,[18] ditambah setelah keluarnya Peraturan Pemerintah No. 84 Tahun 1999 tentang perubahan batas wilayah Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam. Dari peraturan pemerintah (PP) ini luas wilayah kota Bukittinggi bertambah menjadi 145.29,90 km², dengan memasukan beberapa nagari yang sebelumnya pada masa pendudukan Jepang berada dalam wilayah administrasi kota Bukittinggi.[19]
Namun seiring bergulirnya reformasi pemerintahan yang memberikan hak otonomi yang luas kepada kabupaten dan kota, muncul kembali penolakan dari masyarakat Kabupaten Agam atas perluasan dan pengembangan wilayah Kota Bukittinggi tersebut. Bagi masyarakat Kabupaten Agam yang masuk ke dalam wilayah perluasan kota ini, merasa rugi karena dengan kembalinya penerapan model pemerintahan nagari lebih menjanjikan, dibandingkan berada dalam sistem kelurahan. Selain itu timbul asumsi, masyarakat kota yang telah heterogen juga dikhawatirkan akan memberikan dampak kepada tradisi adat dan kekayaan yang selama ini dimiliki oleh nagari.

[sunting] Perwakilan

Partai
Kursi
8
3
3
3
3
2
1
1
1
Total
25
Sumber:[20]
Pada Pemilu Legislatif 2009, DPRD kota Bukittinggi adalah sebanyak 25 orang dan tersusun dari perwakilan sembilan partai.[20]

[sunting] Pendidikan

Sejak zaman kolonialis Belanda, kota ini telah menjadi pusat pendidikan di Pulau Sumatera.[21] Dimulai sejak tahun 1872, dengan berdirinya Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers (sekolah guru untuk guru-guru bumiputera) atau dikenal juga dengan nama sekolah radja, yang selanjutnya berkembang menjadi volksschool atau sekolah rakyat. Kemudian pada tahun 1912 muncul Hollandsch Inlandsche School (HIS), yang dilanjutkan dengan berdirinya Sekolah Pamong Opleiding School voor Inlandsch Ambtenaren (OSVIA) tahun 1918. Pada tahun 1926 juga telah berdiri MULO di kota Bukittinggi.[22]
Pada masa awal kemerdekaan di kota ini pernah berdiri sekolah Polwan dan Kadet serta sekolah Pamong Praja yang pertama di Indonesia. [23] Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan FKIP IKIP Padang (sekarang Universitas Negeri Padang) juga pertama kali didirikan di kota ini sebelum dipindahkan ke Kota Padang.[24]
SD atau MI negeri dan swasta
SMP atau MTs negeri dan swasta
SMA negeri dan swasta
MA negeri dan swasta
SMK negeri dan swasta
Jumlah satuan
65
19
11
5
13
4
Data sekolah di kota Bukittinggi
Sumber:
[25][26]

[sunting] Kesehatan

Kota Bukittinggi telah memiliki pelayanan kesehatan yang baik, kota dengan luas relatif kecil ini telah memiliki 5 rumah sakit, yaitu 3 milik pemerintah dan 2 milik swasta. Selain itu, juga didukung oleh 5 puskesmas, 6 puskesmas keliling, dan 15 puskesmas pembantu. Salah satu yang utama adalah Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Achmad Mochtar, merupakan rumah sakit umum milik pemerintah bertipe B dengan jumlah tempat tidur sebanyak 299.[27]
Rumah Sakit Stroke Nasional yang terdapat di kota ini, merupakan rumah sakit milik pemerintah dengan pelayanan khusus penyakit stroke, dan memiliki jumlah tempat tidur sebanyak 124 buah.[28][29] Rumah sakit ini merupakan rumah sakit khusus pengobatan stroke pertama di Indonesia dan ketiga di dunia.[24] Selain itu terdapat juga Rumah Sakit Islam Ibnu Sina, sebuah rumah sakit swasta yang telah memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 136 buah.[27]
Sementara itu untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, sampai tahun 2009 terdapat 8 institusi pendidikan tenaga kesehatan di Kota Bukittinggi. 2 institusi milik pemerintah (Poltekes) dan 6 dikelola oleh pihak swasta.[27]

[sunting] Perhubungan

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/46/Tri_Daya_Eka_Dharma_Museum.jpg/200px-Tri_Daya_Eka_Dharma_Museum.jpg
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Kota Bukittinggi berada pada posisi strategis Jalur Lintas Sumatera, yang menghubungkan Padang, Medan, dan Palembang, serta berada di antara Padang dan Pekanbaru. Terminal Aur Kuning merupakan terminal utama untuk angkutan transportasi darat di kota ini. Sementara untuk transportasi dalam kota, tersedia angkutan kota, taksi, dan bendi (kereta kuda).
Sebelumnya kota ini dilalui oleh jalur kereta api yang menghubungkan Kota Payakumbuh dan Kota Padang, yang dibangun sekitar awal abad ke-20. Namun pada dekade 1970-an, sarana transportasi ini tidak diaktifkan lagi. Kota ini juga telah memiliki sarana transportasi udara non-kelas yang bernama Bandara Bukittinggi.[30]

Perekonomian

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/12/Bukittinggi_T%C3%BAnel_Japon%C3%A9s.JPG/200px-Bukittinggi_T%C3%BAnel_Japon%C3%A9s.JPG
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Lubang Jepang di Bukittinggi
Perkembangan pasar Loih Galuang yang sekarang disebut juga Pasar Ateh, membuat pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1900 mengembangkan sebuah loods ke arah timur, tepatnya pada kawasan pinggang bukit yang berdekatan dengan selokan yang mengalir di kaki bukit. Karena lokasi pasar tersebut berada di kemiringan, masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Pasar Teleng (Miring) atau Pasar Lereng. Perkembangan berikutnya di sekitar kawasan tersebut muncul lagi beberapa pasar, di antaranya Pasar Bawah dan Pasar Banto. Pasar-pasar tradisional di sekitar kawasan Jam Gadang ini, kemudian berkembang menjadi tempat penjualan hasil kerajinan tangan dan cinderamata khas Minangkabau. Dalam penataan pasar, pemerintah Hindia-Belanda juga menghubungkan setiap pasar tersebut dengan janjang (anak tangga), dan di antara anak tangga yang terkenal adalah Janjang 40.
Untuk mengurangi penumpukan pada satu kawasan, pemerintah Kota Bukittinggi kemudian mengembangkan kawasan perkotaan ke arah timur dengan membangun Pasar Aur Kuning, yang saat ini merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatera. Disebabkan luas wilayah yang kecil, sektor perdagangan merupakan salah satu pilihan yang tepat bagi pemerintah Kota Bukittinggi dalam meningkatkan pendapatan penduduknya.
Selain itu pemerintah Kota Bukittinggi juga menelurkan beberapa program dalam mengentaskan kemiskinan, di antaranya pelatihan keterampilan membordir dan pelatihan pembuatan kebaya, serta penumbuhan wirausaha baru.[31] Bordir asli Bukittinggi biasanya menggunakan teknik krancang langsung yang tergolong rumit dan memakan waktu. Ini berbeda dengan barang hasil serupa buatan Tasikmalaya, Jawa Barat yang menggunakan teknik krancang solder. [32]

[sunting] Pariwisata

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/6/62/Jembatanlimpapeh.jpg/220px-Jembatanlimpapeh.jpg
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Pembangunan kepariwisataan merupakan salah satu sektor andalan bagi Kota Bukittinggi. Banyaknya objek wisata yang menarik, menjadikan kota ini dijuluki sebagai "kota wisata". Saat ini di kota Bukittinggi telah terdapat sekitar 60 hotel dan 15 biro perjalanan.[33] Hotel-hotel yang terdapat di kota Bukittinggi antara lain The Hills (sebelumnya Novotel), Hotel Pusako, dan baru-baru ini juga dibangun Hotel Rocky.
Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut dengan Lubang Japang.
Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan Minangkabau. Kebun Binatang Bukittinggi dan benteng Fort de Kock, dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di Kota Bukittinggi.
Pasar Ateh (Pasar Atas) berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir,[34] serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatera Barat, seperti keripik sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, karupuak jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, dan karak kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8. Saat ini juga telah dibangun beberapa pusat perbelanjaan modern di Kota Bukittinggi.

[sunting] Olahraga

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/9/96/Lapangan_Olahraga_Wirabraja_.JPG/220px-Lapangan_Olahraga_Wirabraja_.JPG
http://bits.wikimedia.org/static-1.21wmf2/skins/common/images/magnify-clip.png
Lapangan Olahraga Wirabraja
Masyarakat Kota Bukittinggi sangat menyukai olahraga berkuda, dan setiap tahunnya kota ini mengadakan lomba pacu kuda di Bukit Ambacang, yang sudah diselenggarakan sejak tahun 1889.[6] Perlombaan pacu kuda ini merupakan rangkaian perlombaan pacu kuda yang diadakan dibeberapa kawasan lain di Sumatera Barat. Dengan adanya pelombaan ini, mendorong para peternak kuda untuk tetap bertahan dan memanfaatkan tradisi ini sebagai sumber mata pencarian.[35]

[sunting] Pers dan media

Sekitar tahun 1924 di kota ini diterbitkan surat kabar Periodik yang dipimpin oleh S. Moesjafir, kemudian disusul penerbitan surat kabar mingguan Doenia Achirat oleh Sain al Malik dan Soetan Perpatih, namun surat kabar ini tidak berumur panjang. Selain itu beberapa tokoh pers wanita di kota ini seperti Djanewar Djalil dan Sjamsidar Jahja juga menerbitkan surat kabar Soeara Poetri yang mengetengahkan beberapa isu emansipasi wanita.[36]
Pada masa pendudukan Jepang, di kota ini pernah didirikan pemancar radio terbesar untuk Pulau Sumatera. Pemancar ini dalam rangka mengibarkan semangat rakyat untuk menunjang kepentingan Perang Asia Timur Raya versi Jepang.[37] Di kota ini terdapat beberapa stasiun pemancar radio sebagai sarana informasi dan hiburan masyarakat, antara lain: RRI Bukittinggi, Elsi FM[38], SK FM[39], dan GRC FM.[40]

Jumat, 02 November 2012

Profil SMAN 1 Bukittinggi

SMA Negeri 1 Bukittinggi adalah sekolah menengah atas tertua di kota Bukittinggi yang berdiri pada tanggal 23 Juli 1959. Sekolah ini terletak di jalan Syekh M. Jamil Jambek No. 36 (Lanbouw), kelurahan Pakan Kurai, Bukitinggi dan merupakan rintisan sekolah bertaraf internasionalyang dimulai sejak tahun 2006 dan termasuk 5 SMA R-SMABI pertama Di Indonesia

Pada tahun 1957, SMA Negeri 1 Bukittinggi awalnya merupakan bagian dari SMA ABC yang berlokasi di Birugo, tepatnya di lokasi SMA Negeri 2 Bukittinggi saat ini. Sejak tahun 1958 lokasi sekolah tersebut dipindahkan ke jalan Syekh M. Jamil Jambek No. 36 (Lanbouw) Bukittinggi, dan bangunannya benar-benar siap untuk digunakan pada tahun 1959. 

Nah, berikut profi dari SMAN 1 Bukittinggi

 PROFIL SEKOLAH
 
 Sekolah yang terletak di Jl. Syech M. Jamil Jambek No.36 Bukittinggi ini. Bangunannya memang tampak seperti bangunan Belanda. Sekolah ini, jelas Bapak Drs. Yofrizal selaku wakil humas, dulunya merupakan harta rampasan perang Belanda dan Jepang. Harta ini digunakan untuk pembangunan sekolah. Ada dua sekolah di Indonesia yang dibangun dengan harta rampasan perang ini pada tahun 1959, yaitu SMA N 1 Bukittinggi dan SMA N 1 Yogyakarta. “Bangunannya persis sama,” jelas Bapak Yofrizal. Sekolah yang mendidik 1014 orang siswa ini juga dikenal dengan SMA 1 Landbow karena dulunya sekolah ini daerah pertanian. SMA Negeri 1 Bukittingi lahir dari pemekaran SMA negeri ABC Bukittinggi yang berlokasi di Birugo (SMA 2 Bukitinggi sekarang) pada tahun 1957. Pada awalnya SMA ini dikenal dngan SMA Negeri 1B dan pada tahun 1958 lokasinya dipindahkan ke lokasi yang ada sekarang yaitu jalan Syekh M Jamil Jambek No.36 (Lanbouw) Bukittinggi. Gedung induk SMA Negeri 1 Bukittinggi yang mulai dibangun tahun 1957 dan selesai tahun 1959 merupakan bantuan Pemerintah, mengingat Bukittinggi adalah pusat atau ibukota propinsi Sumatera Tengah. Luasnya bangunan memungkinkan sekolah ini memiliki fasilitas yang lengkap. Sesuai jadwal, para siswa belajar di laboratorium fisika, kimia, biologi, bahasa, dan matematika. Begitu pula dengan lab computer. Sekolah ini memiliki tiga lab computer. Lab pertama dan kedua digunakan hanya untuk mempelajari ilmu computer dasar, seperti Microsoft Office. Sedangkan lab ketiga khusus untuk multimedia, mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat sesuai jurusan masing-masing. Misalnya, untuk siswa jurusan IPA belajar Autocad dan IPS belajar computer akuntansi. Sekolah ini juga memiliki masjid yang pembangunannya didanai oleh alumni-alumninya. Selain digunakan untuk shalat lima waktu, masjid ini juga digunakan untuk shalat Jumat oleh warga sekolah. Di sebelah masjid, terdapat ruang perpustakaan yang sudah terakreditasi A. Perpustakaan ini menyediakan 900.000 buah buku untuk dibaca para siswa. Baik itu, buku pelajaran, buku sastra, ensiklopedia, dan lainnya. Di dalam perpustakaan ini juga disediakan tempat untuk berdiskusi, tempat bersekat bagi yang ingin membaca serius, dan ruang untuk menonton televisi. Menurut, salah seorang petugas perpustakaan, setiap jam istirahat, perpustakaan ini selalu ramai dikunjungi siswa.Lingkungan sekolah pun tampak asri. Taman ada di mana-mana, menyejukkan setiap mata yang memandangnya. Ruang serbaguna juga ada. “Biasanya, perpisahan atau acara-acara sekolah diadakan di sini,” ujar Bapak Yofrizal sembari mengajak P’Mails memasuki ruangan itu. Sekolah yang dikepalai oleh Drs. Taswar, SE, M. Pd ini memiliki 29 kelas yang terdiri dari kelas akselerasi dan SBI. Kelas Akselerasi biasanya hanya dihuni oleh belasan hingga dua puluhan siswa, tetapi untuk kelas SBI ditempati oleh lebih kurang 30 orang siswa. Kelas yang tidak biasa inilah yang membuat uang SPP di sini beragam. Uang sekolah berkisar antara Rp 70.000,00/ bulan hingga Rp 145.000,00/ bulan. Uang sekolah itu digunakan untuk belajar tambahan di sekolah, fasilitas belajar, pengadaan computer di kelas, dan loker untuk setiap siswa yang letaknya di dalam kelas masing-masing. Sekolah ini pernah mendapatkan peringkat I rata-rata NEM se Sumatera Barat Tahun 1996 s/d 2000, peringkat II rata-rata NEM IPA dan IPS se Sumatera Barat tahun 2003/2004, dan peringkat II rata-rata Nem IPA dan VI NEM IPS se Sumatera Barat tahun 2004/2005. Untuk urusan ekstrakurikuler, SMA N 1 Landbow tak ingin ketinggalan. Sekolah yang mempunyai visi “Unggul dalam IPTEK dan imtaq” ini pernah mengutus siswanya hingga berhasil menjadi paskibra Sumatera Barat. Selain itu, sekolah ini juga mempunyai Forum Studi Islam. Kegiatan pramuka, olahraga, band juga eksis di sini. Meskipun latihannya tidak mempunyai jadwal tetap, tetapi jika akan ada lomba atau event tertentu barulah mereka berlatih secara rutin. Prestasi pun menjamur di sini, baik dari segi akademis maupun non akademis. Misalnya saja, dua siswa yang mengikuti Olimpiade Olahraga Nasional ini. Adit Abdillah untuk cabang karate dan atletik, serta Denisa Rani untuk cabang atletik. Tiga orang siswa SMA N 1 ini juga mewakili Sumatera Barat mengikuti Olimpiade Sains tingkat Nasional 2008 di Makassar, yaitu Andra Aditya untuk Matematika, Davis Rozano Bestari untuk Kimia, dan Meilina untuk Ilmu Komputer. Tak hanya itu. Raden Aryo Febrian juga memenangkan lomba debat konstitusi Hukum UNAND 2008 dan Lomba Debat Antar Pelajar SMA se-Sumatera Barat yang diadakan P’mailovers tahun 2008 lalu. Dua orang siswanya juga mengikuti pertukaran pelajar. Miftahul Khairi, kelas XII SBI sudah berada di Amerika Serikat kini, sedangkan Arum Tri Hadininsih, kelas XI akselerasi hingga kini masih mengecap pendidikan di Jepang. Guru-guru pun tak mau kalah dengan siswa-siswanya. Dua orang guru, yaitu Ibu Afdaleni, S. Si dan Ibu Fitriyati, S.Pd pernah magang ke Australia tahun 2008 lalu. Berbicara masalah peraturan, sekolah ini tak main-main. Ketika siswa sudah memutuskan untuk bersekolah di sini, maka ia harus menyetujui perjanjian di atas kertas bersegel dengan materai 6000. Jenis kesalahan pun sudah dikotak-kotakkan. Untuk kesalahan berat, seperti mengonsumsi narkoba, berkelahi, melawan guru, akan segera didepak dari sekolah itu.